Fenomena sekolah online dan kesan mengikutinya

Sekolah online kini menjadi tren baru dalam dunia pendidikan seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan untuk terus menuntut ilmu dengan berbagai keterbatasan. Umumnya, sekolah online dipilih ketika seseorang merasa terlalu sibuk untuk meluangkan waktu hadir langsung ke tempat perkuliahan namun terdapat urgensi atas ilmunya. Bisa juga karena adanya kendala jarak, misalnya orang yang ahli tersebut rupanya berjarak ratusan kilometer sehingga sulit untuk didatangi langsung. Apapun alasannya, sekolah online membantu menjawab permasalahan itu.

Ada beberapa pro dan kontra sekolah online menurut saya. Di satu sisi, mengikuti sekolah online memudahkan dalam mencari ilmu. Saya tidak harus hadir di waktu yang disediakan karena materinya bisa saya baca nanti saat sudah luang. Dan itu membuat saya tidak perlu takut ketinggalan penjelasan materi karena semua materi berbentuk tertulis. Jika diizinkan, pemateri bisa dikontak sewaktu-waktu tanpa harus janjian terlebih dahulu seperti kalau ke dosen.

Namun di sisi lain, ada hal yang kurang dalam sekolah online. Menurut saya, tingkat keseriusan seseorang cenderung berkurang di sekolah online, sekalipun ada aturan yang ketat tetap saja pelanggaran itu ada. Tak jarang sekolah online menetapkan adanya tugas dan standar kelulusan, namun masih saja ada yang seenaknya dalam mengerjakan, menjadi deadliner, atau bahkan tidak dikerjakan. Mungkin pikirnya toh bayarnya nggak semahal sekolah, gagal juga nggak masalah. Nanti ada batch baru bisa ikut lagi.

Termasuk soal materi yang tidak harus diikuti di saat jam perkuliahan yang ditentukan. Dengan dalih sibuk dan bisa dibaca nanti saat luang, seringkali kebiasaan menggampangkan tadi membuat seseorang jadi lalai dan akhirnya malah benar-benar mengabaikan materinya. Hingga kemudian muncul materi baru. Terjadi penumpukan materi dan tugas.

Di sini saya ingin membagi pengalaman mengikuti 2 sekolah online, kebetulan keduanya baru saya ikuti di tingkat dasar semua. Saya akan membandingkan dari beberapa aspek secara netral. Kedua sekolah itu adalah Institut Ibu Profesional atau IIP dan Bengkel Diri atau BD.

1. Konsep kelas
IIP: kelas berupa WAG (Whatsapp Group) yang dibagi sesuai domisili peserta. Setiap kelas memiliki admin seorang fasilitator dan observer. Juga ada guardian sebagai pengganti fasilitator jika berhalangan.
BD: kelas berupa WAG dengan jumlah peserta dari berbagai daerah di tanah air atau bahkan di luar negeri. Ada 2 WAG untuk 1 kelas, yaitu WAG khusus materi dan WAG cafe untuk interaksi. Jumlah peserta dioptimalkan sampai sebatas mana WAG mampu menampung anggota, biasanya sekitar 250 orang. Kelas memiliki admin seorang wali kelas dan beberapa pemateri penanggung jawab kelas itu.

Secara umum konsep keduanya mirip. Perbedaan ada pada cara penentuan masuk kelas dimana pada IIP didasarkan pada domisili. Saya kurang tahu pada BD atas dasar apa, bisa jadi sesuai urutan daftar.
Jumlah orang dalam kelas bisa jadi disesuaikan atas jumlah keseluruhan peserta dibagi berapa admin yang bisa memegang kelas. Pada IIP karena berdasar domisili maka bisa lebih sedikit pesertanya, tergantung jumlah admin di domisili itu. Sedangkan pada BD, adminnya global sehingga kelasnya pun dibagi rata sesuai jumlah admin.

2. Materi
IIP: fokus IIP adalah memberdayakan perempuan untuk bisa menjadi ibu yang profesional dalam mengurus keluarga dan dirinya. Materi terfokus pada hal-hal praktikal tentang keseharian yang dihadapi oleh ibu.
BD: fokus BD ada pada pemberdayaan seorang wanita dari berbagai aspek serta manajemen diri, dimana ditekankan untuk selalu sesuai syariat Islam. Karenanya ada materi dasar Islam yang disampaikan di perkuliahan.

Keduanya fokus pada perempuan. IIP menekankan tentang peran ibu, walaupun materinya juga bisa diaplikasikan untuk yang belum menikah. BD ditekankan secara global, sehingga usia yang ikut pun beragam dan banyak juga yang belum menikah.

3. Pemberian materi
IIP: materi diberikan pada jam tertentu di pagi hari melalui Google Classroom (GC). Tanya jawab diserahkan pada yang bertugas (biasanya ada koordinator mingguan). Sesi diskusi dilakukan malam hari pada jam yang ditentukan. Bentuk materi berupa teks di GC diikuti PDF dengan isi sama. Seluruh sesi diskusi berupa teks.
BD: materi diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan, yaitu tiap 3 hari jam 8 malam. Ada kelas khusus materi yang dikunci (hanya admin yang bisa membagi tulisan). Materi disampaikan langsung di jam tersebut diikuti oleh sesi diskusi (bisa dipindah jika pemateri berhalangan). Bentuk materi berupa slide yang dikirim terpisah diikuti oleh voice note (VN) berupa penjelasan slide oleh pemateri. Jawaban dari pertanyaan siswa dijawab juga oleh pemateri melalui VN.

Untuk pembelajar visual, pemberian materi lewat teks lebih memudahkan untuk belajar. Materi berupa VN membuat kita merasa lebih dekat karena bisa mendengar langsung suara pemateri. Keduanya telah memisahkan tempat memberikan materi dengan tempat interaksi.

4. Pemateri
IIP: Penyusun materi ada timnya sendiri. Penyampai materinya adalah fasilitator yang sudah dikader. Ketepatan materi yang disampaikan bisa berbeda tergantung kualitas fasilitator dalam menguasai materi.
BD: Materi disusun dan disampaikan langsung oleh pemateri. Untuk materi life skill dihandle langsung oleh Ummu Balqis, sedangkan materi Islam dihandle oleh ustadzah yang berbeda di tiap kelasnya. Ada juga 2 pemateri lain yang hanya muncul 1-2x dan menghandle semua kelas.

Perbedaan mendasar dari keduanya adalah siapa yang memberikan materi. Pada IIP, materi disampaikan lewat fasilitator yang biasanya adalah siswa dari kelas-kelas sebelumnya dan telah terlatih. Pada BD, materi disampaikan langsung oleh para pemateri. Karenanya kelas tidak bisa dibuka terlalu banyak mengingat padatnya agenda para pemateri.

5. Tugas
IIP: Nice homework atau NHW diberikan setiap awal pekan sebanyak 9 NHW dengan deadline tiap senin pukul 9. Tugasnya berkesinambungan satu dengan yang lain. Tugas diberikan dan disetor melalui GC. Tugas bisa dikerjakan dalam format apapun, bahkan di blog pribadi. Fasilitator akan menilai setiap tugas yang diberikan dan peserta dapat melihat penilaiannya.
BD: tugas diberikan setiap selesai penyampaian materi dan diskusi tanya jawab. Tugas dari ustadzah bisa berbeda tergantung siapa ustadzah yang menjadi penanggung jawab kelas itu. Biasanya tugas disetor melalui instagram (IG) dengan hashtag khusus. Lama pengumpulan tugas bervariasi dari 3-7 hari. Selain itu ada juga tugas harian mengumpulkan laporan amaliyah harian.

Pengumpulan tugas melalui GC membuat pihak penyelenggara wajib menyediakan waktu untuk melakukan pelatihan tentang penggunaan GC. Pengumpulan melalui IG mengharuskan siswa untuk tidak mengunci IG-nya agar hashtag bisa dilacak.

6. Interaksi antarsiswa
IIP: karena kelas dibuat berdasar domisili dan jumlah peserta tiap kelasnya tidak terlalu banyak, interaksi siswa menjadi lebih intens. Siswa bisa lebih cepat mengenal satu sama lain. Apalagi berada dalam satu daerah memudahkan untuk melakukan kopi darat atau kopdar.
BD: dengan jumlah peserta 250-an orang tiap kelasnya, otomatis kelas menjadi sangat ramai. Kadang ini membuat obrolan tidak fokus, interaksi kurang mendalam, dan kadang membuat obrolan penting menjadi cepat tertimbun. Beberapa yang merasa terganggu dengan banyaknya chat setiap harinya disarankan untuk clear chat. Namun ada juga yang akhirnya memilih keluar dari grup kelas dan hanya fokus ke grup materi.

Untuk mereka yang membutuhkan kedekatan emosional dengan siswa lain, biasanya akan lebih suka jika jumlah siswa di kelas tidak terlalu banyak. Jika memang peserta terlalu banyak, terkadang disiasati dengan mendata siswa yang domisilinya berdekatan untuk kemudian bisa bertemu jika memungkinkan.

7. Standar kelulusan
IIP: minimal 7 dari 9 NHW dikerjakan. Setelah masa mengerjakan NHW selesai, masih diberikan kesempatan untuk yang ingin melengkapi setoran NHW yang kurang agar bisa mencapai standar minimal kelulusan.
BD: minimal 70% tugas dikerjakan dan semua materi didownload. Walaupun ada deadline tugas tapi siswa masih tetap bisa setor tugas di luar deadline.

Setelah tenggat waktu yang diberikan, IIP mengumumkan kelulusan bahkan mengadakan wisuda online maupun offline. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan ada tidaknya wisuda. Namun dengan diadakan wisuda menjadi jelas kapan pembelajaran yang kita ikuti benar-benar usai. BD sampai saat ini belum ada kejelasan tentang itu.

8. Pengelolaan alumni
IIP: setelah lulus dari IIP, siswa mendapat kesempatan bergabung ke komunitas IP di kotanya serta berhak mengikuti “ekskul” di IP seperti RB/RBB/KB. Member baru dikumpulkan dalam WAG khusus dan mendapat bimbingan dari member lama.
BD: grup cafe maupun grup materi tidak dihapus.

Fokus pada kedua sekolah ini berbeda. Pada IIP lebih ditekankan berkomunitas, sehingga pengelolaan alumni sangat diperhatikan agar misi berkomunitasnya tetap terjaga. Sedangkan BD fokus pada pengembangan secara individu, karenanya pengelolaan alumni tidak terlalu dibutuhkan.

***

Lalu setelah mengikuti dua sekolah online, apakah masih tertarik ikut lagi? Kalau saya sih sepertinya iya, tapi level 2 dari sekolah-sekolah tadi. Hehe. Masih belum tertarik untuk merambah ke sekolah lain, karena dari 2 itu saja kebutuhan saya sebenarnya sudah cukup terpenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *