[Bengkel Diri] Komunikasi Anti Macet

Komunikasi Anti Macet

By Annisa Widayati

Komunikasi di Kantor

Komunikasi di dunia kerja ada banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti memperhatikan kebutuhan-kebutuhan orang yang ada di organisasi tersebut, tujuan perusahaan, corporate culture, dll.

Berkomunikasi dengan baik itu tantangan. Penuh dengan improvisasi, kreativitas, serta perubahan. Teori komunikasi tidak bisa pakem untuk semua orang dan semua zaman. Bisa tergantung banyak hal, termasuk karakter orang yang dihadapi. Perlu latihan dan proses berulang-ulang serta kesabaran dalam mengimplementasikan teori-teori ini.

Prinsip dasar komunikasi: komunikator, komunikan, pesan, tujuan komunikasi.
Komunikasi terjadi 2 arah. Keduanya harus memahami ilmu komunikasi. Dan ada feedback atau timbal balik dari pesan.

Active listening: mendengarkan yang tidak sekedar mendengar, namun juga memahami pesan yang ditangkap termasuk menangkap bahasa tubuhnya. Kuncinya: menangkap dengan seluruh panca indera.

Peranan:
1. Anggota, bagian dari grup. Biasa saja. Tidak terlalu aktif.
2. Penyendiri. Suka berbeda pendapat dengan yang lain.
3. Jembatan. Menyatukan kedua pihak yang berbeda pendapat. Pandai dalam menangkap maksud komunikator dan dapat menafsirkan ke bahasa yang lebih mudah.
4. Gate keeper. Orang yang banyak diam tapi saat arus komunikasi mulai ada konflik maka ia akan keluar. Muncul di detik-detik terakhir. Tidak banyak bicara, tapi sekalinya bicara akan didengarkan.
5. Pemimpin pendapat. Suka mengemukakan pendapat dan akan menggiring opini umum atas pendapatnya.
Kita bisa berperan sebagai apapun dalam komunikasi, tergantung kondisi yang dihadapi.

Komunikasi ke bawah (talk down). Tugas pemimpin kepada bawahannya.

Komunikasi ke atas (talk up). Biasanya untuk memberi feedback ke atas.

Gaya komunikasi dalam organisasi
1. Gaya komunikasi mengendalikan. Berusaha memberikan batas pada komunikan agar tujuan kita tercapai. Biasanya pada sesi pemaparan materi. Saat sibuk dan tidak cukup waktu untuk menerima feedback maka bisa digunakan.
2. Gaya komunikasi dua arah. Komunikasi relaks dan santai. Suasana penuh kesetaraan.
3. Gaya komunikasi berstruktur. Untuk memantapkan perintah yang harus dilakukan oleh anggota. Tanpa basa basi langsung masuk ke inti dari pembicaraan. Terkesan serius, lebih efektif dan efisien.
4. Gaya komunikasi dinamis. Lebih agresif. Komunikator menyampaikan pesan, komunikan bisa langsung memberi feedback. Biasanya pada lingkungan kerja industri kreatif, misal EO. Tantangannya komunikator harus mampu menerjemahkan keinginan dari klien dengan cepat agar para eksekutor bisa segera melakukan kerja. Komunikan pun juga harus memiliki kemampuan yang baik sehingga cepat menerima pesan. Bisa terjadi jika tiap posisi sudah berkecimpung lama di bidangnya.
5. Gaya komunikasi relinguishing. Biasanya ketika pemimpin sering berganti-ganti sedangkan staf ahlinya tetap. Pemimpin tampak seperti moderator saja atau pemimpin boneka. Cenderung meminta feedback saja, bukan menyuruh tugas.
6. Gaya komunikasi withdrawal. Tidak baik digunakan karena muncul saat konflik sudah sangat berlebihan sehingga tiap anggota ada kesan tidak ingin dilibatkan dalam persoalan dan tidak ingin memperpanjang komunikasi.

Apapun gaya komunikasinya, walaupun pesannya negatif, jika kita aktif mendengar dengan positif akan memberikan respons yang positif pula.

Pahami cara pandang tiap posisi sehingga bisa lebih mengerti setiap komunikasi yang disampaikan.

Pahami bahasa verbal dan non verbal. Verbal: kata yang disampaikan. Non verbal: postur, ekspresi, mimik wajah, gerak tubuh, bahasa tubuh, dll.

Komunikasi dengan Orang Tua dan Keluarga

Prinsip: harmonisasi, saling melengkapi, dan pahami perbedaan.

Perintah Allah untuk kita:
QS Al Isra 23-24: seorang anak diwajibkan untuk senantiasa berbakti pada orang tuanya.
QS Lukman 14: bakti pada orang tua terutama ibu.
QS Al Baqarah 83: berbuat baik pada orang tua dan kerabat.
Dari situ akan muncul kesadaran untuk berkomunikasi yang baik pada mereka.

Yang harus diperhatikan saat komunikasi:
1. Mengucapkan perkataan yang baik. QS Al Ahzab 32. Berkata baik yang tidak membuat orang tersinggung.
2. Mengucapkan perkataan yang mulia. QS Al Isra 23. Berkata mulia yang tidak menghina.
3. Mengucapkan perkataan yang lemah lembut. QS Thoha 44.
4. Mengucapkan perkataan benar, lurus, jujur. QS An Nisa 9.
5. Mengucapkan perkataan yang membekas pada jiwa (berkesan baik), tepat sasaran, komunikatif, dan mudah dimengerti. Pahami lawan bicara sehingga kata yang dipilih bisa tepat. QS An Nisa 31.

Sumber: materi Bengkel Diri level 1 oleh Ibu Annisa Widayati

[BengkelDiri5_level1_thaif]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *