Menanti

Kemarin buku Awe-Inspiring Us karya Mbak Dewi Nur Aisyah sudah datang ke rumah. Saat bapak pengantar paket datang, saya jujur nggak tahu itu buku yang mana saking banyaknya buku yang saya pesan online belakangan. Pun suami mengernyitkan dahi, “Kamu pesan buku apa lagi?” Lalu dia buka bungkusnya segera.

Kemudian saya teringat salah satu kalimat yang saya baca di sebuah medsos. Penyampainya adalah seorang ibu biasa namun dengan konten medsosnya yang luar biasa. Katanya kurang lebih seperti ini: kalau sebuah buku cuma teronggok di lemari tanpa sempat kamu baca, bisa jadi Allah tidak menakdirkan kamu untuk mendapat ilmu dari buku itu.

JLEB. Lalu saya teringat banyaknya buku yang masih rapi di lemari. Mungkin ini saatnya saya luangkan waktu lebih untuk membaca lagi. 😁

Di buku tadi, Mbak Dewi Nur Aisyah membahas tentang sebuah penantian. Tidak hanya tentang jodoh, tapi juga apa pun. Mbak Dewi ini seorang ibu dengan amanah 2 anak (yang satu masih berusia beberapa bulan) dan sedang menyelesaikan studi S3-nya bersama suami yang juga sedang S3. Keduanya mendapat rezeki studi di Inggris.

Bisa dibayangkan, studi S3, di luar negeri, dalam kondisi punya 2 anak yang masih kecil. Jauh dari keluarga, berada di lingkungan asing, dengan amanah setumpuk. Namun hebatnya, anaknya sangat terjaga aqidahnya. Itu lah yang membuat saya penasaran ingin membaca bukunya.

Penantian yang diceritakan mbak Dewi salah satunya tentang usahanya mencari beasiswa. Berpuluh kali ia melamar beasiswa ke luar negeri, namun selalu tertolak. Sampai akhirnya dapatlah ia di Inggris, di universitas yang saat ia masuk merupakan universitas terbaik ke-4 di dunia.

Mbak Dewi menekankan, semua orang itu menunggu. Yang baru lulus menunggu pekerjaan. Yang belum menikah menunggu jodoh. Yang sudah menunggu dapat anak. Bahkan kita semua pun sejatinya sedang menunggu untuk bertemu dengan Sang Pencipta.

Namun yang membedakan adalah sikap saat menunggu. Apakah dalam penantian kita akan ragu dan menggerutu. Atau kita memilih sabar dan tawakal serta menyandarkan diri pada iman yang kokoh.

Menyandarkan iman bermakna bahwa kita tidak berputus asa dalam berusaha atau ikhtiar, tapi juga tidak menuhankan ikhtiar. Ada iradat Allah yang juga turun berperan di dalamnya. Begitu pula ketika Allah tidak kunjung mengabulkan doa, maka kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah sambil meyakini Allah menjawab doa dengan caraNya. Bahwa rencana Allah yang lebih baik dari rencana manusia.

Alhamdulillah saya masih diberi rezeki bisa membaca dan mendapatkan ilmu dari buku ini. ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *