[Bengkel Diri] Kepribadian Islam

Materi Dasar Islam

Kepribadian Islam

By Ummi Roza

Setiap orang pasti ingin jadi orang baik dan dilihat sebagai orang baik. Upaya untuk itu: memperbaiki fisik (cara berpakaian, dandan, dll) dan ikut sekolah kepribadian (cara bicara, cara berjalan, dll). Ada juga yang berupaya dengan memfasilitasi dirinya dengan benda, misal mobil, barang mahal, dll.

Psikologi: kepribadian dari kata personality/persona/topeng.
Cara seseorang berinteraksi dan bereaksi terhadap lingkungannya.
Penentu kepribadian adalah tingkah lakunya, bukan hanya penampilan. Karena penampilan bisa dipoles.

Naluri dan kebutuhan jasmani memberikan dorongan kepada manusia untuk dipenuhi. Dorongan membentuk kecenderungan bagi manusia untuk melakukan aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan. Akal yang akan menentukan aktivitas mana yang dipilih.

Akal = berpikir = mengkaitkan antara fakta yang terindera dengan informasi yang sebelumnya.
Proses berpikir sama pada setiap orang, hanya saja kecepatan berbeda tiap orang, tergantung seringnya kita menerima fakta itu.

Kebutuhan jasmani harus dipenuhi, jika tidak akan menimbulkan kerusakan pada tubuh. Rangsangan yang terjadi dari dalam.

Naluri/gharizah rangsangannya dari luar. Ketika tidak dipenuhi akan menimbulkan gelisah, tapi tidak menimbulkan kerusakan pada tubuh.

Kepribadian (dalam Islam) = bagaimana seseorang memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya serta menggunakan akal dalam memilih aktivitasnya.
Bagaimana seseorang memandang dirinya dan kehidupannya ada 3 pola: Islam, Kapitalisme, Sosialisme.

Nafsiyyah (pola perilaku) terbentuk karena adanya potensi kehidupan dalam diri manusia. Pola perilaku tergantung pemahaman apa yang dianut orang tersebut.
Misal: seorang akhwat menerima pesan pribadi dari laki-laki, sehingga ghorizah naw bergejolak. Kalau ia memahami perilaku Islamiyah tentang interaksi antara laki-laki dan perempuan, maka ia akan menjaga diri dengan tidak merespons perhatian itu atau merespons dengan formal/seperlunya.

Posisi aqidah dalam kepribadian. Aqidah adalah pandangan menyeluruh tentang kehidupan dan menjadi landasan berpikir (aqliyah) serta kaidah/standar perbuatan (nafsiyyah). Ketika aqidah islam yang digunakan, maka aqliyah dan nafsiyyah yang digunakan yang islami dan akan membentuk pola perilaku islami.

Metode:
1. Menanamkan aqidah islam dalam diri. Belajar islam, menggunakan islam sebagai landasan hidup kita.
2. Menjadikan islam sebagai landasan berpikir.
3. Menjadikan syariat islam sebagai tolok ukur perilaku. Ada standar islam dalam pemenuhan ghorizah/naluri dan kebutuhan jasmani.

Memperkuat aqliyah:
Mengkaji islam. Menambah ilmu islam dalam kepala kita. Pengetahuan ini akan menjadi kacamata diri kita terhadap fakta untuk membantu menilai peristiwa yang terjadi secara islam.

Memperkuat nafsiyyah:
Kualitasnya erat pada ketaatan pada Allah. Harus mendorong diri secara sungguh-sungguh untuk taat pada Allah. Terkait prioritas hidup, yaitu mendahulukan wajib dan sunnah, meninggalkan makruh dan haram, memilih yang mubah. Menundukkan hawa nafsu atas syariat Islam.

Kepribadian muslim itu unik. Mereka tidak merisaukan hal-hal yang sifatnya fisik atau penampilan. Cara berpikir dan perilaku selalu berlandaskan pada aqidah dan syariat Islam.

Contoh-contoh kepribadian islam:

Kepribadian islam itu MUNGKIN untuk dilakukan. Tidak harus menjadi seperti malaikat, namun jika melakukan kesalahan harus selalu bertaubat.

Membangun kepribadian islam: mendandani pikiran, perilaku, dan hati kita secara islam.

Sumber: materi Bengkel Diri level 1 oleh Ummi Roza

[BengkelDiri5_level1_thaif]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *