Why I jumped Myself into IIP

Sudah lama tidak menulis personal thought. Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang mengapa saya “menjerumuskan” diri pada Institut Ibu Profesional (IIP) khususnya IP Bandung.

Bahasanya “menjerumuskan” banget nih? Hmm, soalnya saya awalnya nggak sengaja ketemu IIP dari jalan-jalan di tab explore-nya IG. Keliling dari satu akun ke akun lain, eh nemu IP Bandung. Penasaran kan kenapa kok ada kata “profesional” disandingkan sama kata “ibu”? Mana saat itu saya juga sedang jadi ibu bingung untuk anak yang masih belum MPASI, rasanya seperti dikasih arahan untuk kepo.

Dari hasil kepo, saya hampir nggak nemu apa pun. Hahaha. Tapi entah kenapa si akun nggak saya unfollow. Padahal biasanya kalau nggak jelas saya unfollow saja. Rupanya saya bersyukur dari nggak unfollow tadi malah dapat info tentang matrikulasi. Itu semacam syarat untuk bisa tergabung menjadi anggota.

Sebelumnya saya pernah sedikit curhat tentang yang saya rasakan setelah pindah ke Bandung ini termasuk kurangnya kenalan yang saya punya. Hidup rasanya cuma muter di suami dan anak saja. Makanya saya terpikir kalau ikut komunitas mungkin saya bisa dapat teman. Walaupun networking memang bukan saya banget. Tapi ternyata orang seperti saya pun bisa kesepian. Hahaha.

Dari situ saya mantapkan diri daftar matrikulasi. Alhamdulillah keangkut di kelas Bandung 1. Pas pertama ngintip kelasnya agak kaget. Enam puluh! Emang segini ya biasanya? Tiba-tiba saya minder sendiri harus interaksi sama 60 orang yang tidak ada yang saya kenal saat itu.

Hal pertama yang membuat saya “geli” adalah semua di situ saling memanggil dengan panggilan “teteh”. Sebagai orang yang lahir dan besar di tanah Jawa, panggilan teteh cuma saya dengar di TV pas nonton Keluarga Cemara dan pas kumpul sama keluarga besar suami (dia punya teteh). Di kelas Bandung 1 saya memanggil dan dipanggil teteh. Asa geli gimana gitu. Sampai sempat terngiang-ngiang lho. Teteh teteh teteh… Hahaha.

Setelah lumayan terbiasa dengan segala pertetehan, mulai lah saya pelajari mau ngapain sih saya di kelas dan komunitas ini. Rupanya mereka punya banyak hal seru yang bisa diikuti. Sebagai contohnya, mereka punya Rumah Belajar atau RB yang disesuaikan dengan passion. Sukanya belajar apa? Yuk gabung dengan RB yang sesuai dan kumpul dengan orang-orang yang juga minat hal serupa.

Seperti kemarin pagi, untuk pertama kalinya saya ikut acara bedah bukunya RB Literasi. Orang yang kenal saya pasti tahu betul secinta apa saya dengan buku dan tahu sebanyak apa koleksi saya. Rasanya senang saat kumpul sama orang-orang baru dan kami fokus bahas buku. Ditambah ada sesi tukar menukar buku juga. Saya dapat buku yang sedang butuhkan, orang lain bisa baca buku yang saya rekomendasikan.

Ada juga Kelas Berbagi (KB) yang disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal. Apapun yang bisa dibagi untuk masyarakat bisa dikerjakan di KB. Untuk saat ini saya belum tertarik gabung. Tapi konsep adanya RB dan KB ini memang menarik sehingga komunitasnya punya kegiatan yang bermanfaat.

Suami saya selalu mendampingi setiap saya ada kumpul offline dengan teman-teman komunitas ini. Dari obrolan kami semalam, ia tertarik dengan konsep komunitas macam ini.

“Jadinya hidup ini nggak cuma ngurusin kerjaan. Ada nggak sih yang buat bapak?” katanya. Nah, monggo bapak-bapak bikin komunitas serupa.

Oh ya, dari kenalan sama teman-teman baru di komunitas ini, saya jadi kenal banyak orang hebat. Dan mereka pun sama seperti saya, yaitu seorang ibu. Dari situ saya jadi tertantang untuk bisa lebih dari saya yang sekarang. Mereka punya kesibukan yang sama tapi bisa berkarya, kok saya gini-gini aja? Gitu lah kira-kita renungan yang saya dapat tiap ketemu orang hebat di komunitas ini.

Jadi…intinya saya bersyukur dulu ngotot mau ikutan program matrikulasi sampai lulus. Saya dapat relasi, ketemu teman-teman dengan minat yang sama, ketemu orang-orang yang menginspirasi, bisa belajar banyak, dan akhirnya kegiatan saya nggak cuma seputar suami dan anak saja.

Kalau kamu seorang ibu, baik di ranah domestik atau publik, dan mulai merasa hidupmu kok gitu-gitu aja, coba gabung deh di komunitas ini. Seru. Nagih. Beneran. 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *