[Ulasan Buku] Kangen Indonesia

Judul buku: Kangen Indonesia
Pengarang: Hisanori Kato
Penerbit: Kompas
Jumlah halaman: 144 halaman
Harga: under 50k

Ketika mendengar tentang negara Jepang, apa yang terpikir di benak orang-orang? Saya yakin sebagian besar akan menjawab tak jauh dari teknologi canggih, etos kerja yang tinggi, disiplin, ambisius, kreativitas, dan hal-hal terkait.

Lalu ketika membandingkan dengan Indonesia, sisi mana yang ingin dibandingkan? Jawabannya pun cenderung seragam; lelet, tidak disiplin, tidak tepat waktu, kurang keras dalam bekerja, dan hal sejenisnya.

Saat pertama menemukan buku Kangen Indonesia, pandangan saya langsung tertuju pada nama penulisnya. Wow, yang menulis orang Jepang! Langsung pikiran negatif menyerang saya. Ah, ini mah pasti bahas yang jelek-jelek. Jepang seperti itu, Indonesia seperti ini.

Tapi…kok judulnya “kangen”? Kan kangen itu konotasinya cenderung positif. Kalau orang Indonesia kangen Jepang mungkin wajar ya, tapi ini sebaliknya. Kok bisa?

Rupanya setelah membeli (saya kemakan judulnya šŸ˜‚) dan membacanya, saya mengetahui bahwa si penulis adalah orang yang sedang studi S3 dan ingin meneliti tentang kehidupan Islam di Indonesia. Beliau tinggal di Indonesia selama beberapa lama sambil merasakan atmosfer budaya sini. Kecopetan, bus yang terlambat, macet, banjir, dsb sudah ia rasakan. Uniknya, beliau membahas itu semua dari sudut pandang humanis, sudut yang kadang terlupakan.

Humanis gimana? Sini, saya jelaskan.

Buat penulis, fenomena kata sakti “macet” dan “Insya Allah” dimaknai lain, yaitu betapa orang Indonesia memiliki hati yang menerima. Begitu pun kata sakti “tidak apa-apa”, seolah mengatakan untuk jangan ambisius dan terlalu memikirkan sesuatu. Alon alon asal kelakon, gitu kira-kira kalau orang Jawa bilang. Penulis menganggap sikap itu kadang diperlukan untuk menurunkan kadar stres orang Jepang yang selalu ingin sempurna dalam pekerjaannya.

Penulis sadar betul bahwa semangat kerja orang Jepang tinggi, seiring dengan tingkat stres dan angka bunuh diri yang juga tinggi. Terkadang hal-hal itu membuat orang Jepang lupa pada sekitar. Hal sepele seperti memberikan tempat duduk di kendaraan umum atau berbagi minuman saat jam berbuka puasa di tempat umum justru menjadi pemandangan langka di Jepang, tapi umum terlihat di Indonesia.

Sayangnya, pembahasan di tiap bab hanya superfisial saja dan beberapa cenderung generalisir. Penulis memang melakukan riset, namun kurang mendalam. Bisa dimaklumi sih karena tujuan awal ke Indonesia kan lebih ke kebutuhan tesisnya. Tapi apa yang ditulis cukup bagus untuk menyadarkan kita semua tentang perspektif lain tentang orang Indonesia.

Apakah buku ini saya rekomendasikan? Iya, tentu saja. Biar kita nggak lihat jeleknya saja dari negeri ini. Hahaha. Dapat bintang 4 dari 5 deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *