[Bengkel Diri] Manajemen Konflik

Kuliah kerumahtanggaan

Manajemen Konflik Rumah Tangga

By Ummu Balqis

Fitrah manusia berpasangan. Pernikahan hadir untuk menentramkan satu sama lain. Tapi bukan berarti ketentraman itu akan ada terus. Konflik pasti akan terjadi pada kehidupan pernikahan. Tinggal bagaimana kita memanajemen konflik yang tidak bisa kita hindari itu.

Pernikahan adalah ibadah jangka panjang. Ibadah pasti ada gangguan dari syaithon. Jangan terlalu reaktif ketika ada konflik karena bisa jadi dibumbui emosi oleh syaithon.

Beberapa pasangan berisiko tinggi berkonflik:
1. Pernikahan yang bawa setumpuk PR di awal. Misalnya orang itu sejak awal tidak sholeh lalu berharap nanti setelah nikah jadi sholeh. Atau pernikahan yang tak terencana (MBA).
2. Niat menikah yang salah. Seharusnya pernikahan adalah ibadah dalam rangka mencari ridho Allah. Ketika niat nikah salah akan sibuk sendiri dengan target niatnya sehingga memberatkan satu sama lain. Misal niat karena harta.
3. Finansial tidak terbuka.
4. Tidak paham kewajiban suami istri
5. Keterbukaan yang rendah
6. Keran komunikasi yang macet
7. Cemburu dan over posesif
8. Hilang romansa dalam pernikahan, perkara ranjang tidak harmonis

Konflik tidak bisa dihindari. Karena itu yang diperlukan adalah memanajemen konflik agar tidak sampai menghancurkan keluarga kita.
Sebelum konflik terjadi, lakukan:
1. Membuat kesepakatan dengan pasangan. Things to do kalau ada konflik. Buat road map apa yang harus diikuti. Bisa dibagi ukuran ringan, sedang, berat. Misal kalau konflik berat perlu panggil penengah, itu ditentukan siapa.
2. Perbaharui niat. Apalagi kalau sudah lama menikah, bisa jadi lupa dengan niatnya. Perbaiki niat berdua secara rutin agar terus bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Fokuskan nikah untuk mencari ridho Allah.
3. Lancarkan keran komunikasi. Perbedaan keluarga yang beriman adalah ketika mendapat konflik tidak meledak dan marah. Namun lebih tenang dan fokus pada solusi.

Saat konflik terjadi:

1. Redam emosi dalam-dalam. Tunggu dulu untuk berpikir agar yang keluar dari kita (baik tindakan maupun ucapan) bukan karena emosi semata. Belajar dari Abu Darda, ketika salah satu marah, satunya harus tetap tenang. Kalau keduanya marah, syaithon akan lebih mudah mengusik kita. Untuk meredam emosi kita, yakinkan diri bahwa Allah pasti akan memberikan solusi dan kemudahan di balik kesulitan.

2. Laksanakan road map. Saling ingatkan untuk melaksanakan things to do yang sudah disepakati bersama. Selesaikan masalahnya berdua. Jika butuh penengah, cari yang adil dan kita percayai. Sebaiknya penengah adalah mertua dari yang punya masalah. Karena orang tua tadi yang akan mendidik anaknya. Misal yang bermasalah istri, maka penengah adalah orang tua dari suami.

3. Bukan kompetisi, tidak mencari pemenang. Hindari pemakaian kalimat hitam putih. Jadikan pasangan sebagai tim dalam menyelesaikan konflik dan berjuang mencari titik temu. Jangan menyalahkan pasangan secara over reaktif membuat pasangan enggan introspeksi dari konflik. Jangan pula diungkit ketika sudah beres atau sudah menemukan solusi. Tetap fokus pada mencari dan menjalankan solusi.

4. Jangan menampakkan konflik di depan anak. Akan memberikan efek negatif pada anak. Jangan pernah membentak pasangan depan anak.

Manajemen pasca konflik
1. Minta maaf dan memaafkan. Selalu ingat bahwa Allah Maha Memaafkan.
2. Tidak perlu mengungkit konflik. Tidak mungkin melupakan konflik, tapi jangan diungkit. Atur prioritas agar konflik itu menjadi sesuatu yang tidak penting lagi untuk diingat. Bantu pasangan untuk memperbaiki diri jika pasangan yang salah.
3. Fokus melihat sisi kebaikan pasangan. Fokus mencari kebahagiaan baru.
4. Berpikir positif. Jalan masih panjang, lupakan yang lalu, fokus untuk meneruskan pernikahan.
5. Jangan bongkar aib konflik ke orang lain. Cukup hanya berdua yang tahu.

Sumber: materi Bengkel Diri level 1 oleh Ummu Balqis

[BengkelDiri5_level1_thaif]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *