[Bengkel Diri] Tawakal, Rezeki, Ajal

Kajian Aqidah

Tawakal, Rezeki, dan Ajal

By Ummi Roza

Perbedaan kualitas generasi masa kini dengan generasi islam terdahulu: generasi dulu memiliki ghirah dan semangat luar biasa untuk membela agama Allah.
Kaum muslimin dulu memahami makna tawakkal yang sebenarnya.
Kaum sekarang teracuni materialisme sehingga fokus pada kepentingan duniawi semata.

Zaman sekarang porsi memikirkan akhirat sangat minim. Kebanyakan dihabiskan untuk menuntaskan kebutuhan duniawi.
Kekuatan menghadapi cobaan sangat lemah. Mudah frustrasi ketika mendapat tantangan.
Hal itu muncul dari kekeliruan dalam memahami tawakal.
Dua kelompok:
Tawakal dulu = pasrah
Tawakal kemudian = usaha dulu

Kelompok pertama: tawakal terikat hukum sebab-akibat. Pemahaman bahwa sebuah usaha mendatangkan hasil kemudian bertawakal.
Membuat kita merasa lemah dan nggak bisa apa-apa. Nggak berusaha melakukan hal di luar kemampuannya.
Melumpuhkan himmah (niat) dan azimah (tekad), sehingga tidak ada kemajuan dalam kaum muslimin. Kehidupan hanya berupa rutinitas dan tidak ada cita-cita tinggi.

Kelompok kedua: tawakal melepas dari hukum sebab-akibat. Seperti bulu yang diterbangkan angin. Pasrah saja sama Allah untuk segalanya.

Kekeliruan pertama: tawakal terikat sebab-akibat, berarti mengabaikan wilayah yang menguasai manusia. Mengabaikan bahwa ada pertolongan Allah. Hanya fokus pada kemampuan aqal. Dia akan menolak tugas dan amanah yang luar biasa karena merasa tidak mampu. Ia tidak percaya kalau ada pertolongan Allah di baliknya.
Misal: seorang miskin merasa tidak mungkin jadi dokter karena miskin dan tidak terlalu pintar dan nggak mungkin dapat beasiswa.

Kekeliruan kedua: tawakal yang melepas sebab-akibat, mengabaikan wilayah yang dikuasai manusia. Mengabaikan kemampuan manusia. Tidak mau berusaha dan ikhtiar, hanya mengandalkan pasrah pada ketetapan Allah.

Seharusnya: tawakal sebagai penyangga utama kehidupan. Dilakukan sebelum, selama, dan sesudah ikhtiar.
Wilayah yang menguasai manusia: yakin bahwa ada kekuatan Allah yang akan menolong kita.
Wilayah yang dikuasai manusia: memaksimalkan ikhtiar dan berusaha menaklukkan tantangan. Memunculkan konsekuensi terhadap aqal manusia.

Efeknya: manusia senantiasa memiliki himmah dan azimah yang tinggi dan mulia serta tetap terikat pada syariat islam dan sunatullah.
Contoh: Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Beliau memiliki misi yang sama dengan misi Allah. Memaksimalkan ikhtiar. Terikat dengan syariat Islam. Dari situ Allah memunculkan keberhasilan dalam tindakannya.

Seharusnya ketika berikhtiar sambil bertawakal tidak boleh ada keraguan sedikit pun. Semua diniatkan karena Allah dan yakin pada pertolongan Allah.

Islam adalah agama penutup. Rasulullah adalah nabi terakhir. Generasi masa kini diminta Allah untuk memenangkan agama Islam atas semua agama di dunia. Harus dijadikan misi hidup umat Islam = tawakal.

Rezeki

Banyak yang memahami rezeki itu dari hasil usaha sendiri. Orang menganggap setelah kerja dapat gaji itu hal yang biasa. Anggapan semakin keras manusia berusaha maka makin banyak rezeki yang didapatkan.

Rezeki secara bahasa bermakna pemberian.
Rezeki yang diperoleh secara halal itu kepemilikan.
Rezeki bisa dari cara yang halal maupun haram.

Al-haal: terkait wilayah yang dikuasai manusia, sifatnya tidak pasti
Al asbab: pasti tapi ghoib bagi manusia. Merupakan sebab datangnya rezeki.

Al asbab pada Al Qur’an: sebab datangnya rezeki hanya dari Allah.

Rezeki ada di 2 wilayah. Usaha manusia akan dihisab Allah.

Kematian

Sama seperti rezeki, ada dua aspek tentang kematian.
Al haal: tidak pasti
Al asbab: sebab datangnya kematian, ghoib

Sebab kematian: sudah sampai pada ajal yang telah ditetapkan oleh Allah.

Sikap yang salah: pasrah, mengabaikan faktor keselamatan dalam apapun

Kematian itu datang dari Allah. Tinggal sejauh mana manusia maksimal dalam menjaga dirinya. Tetap yakin bahwa Allah selalu melindungi hambaNya. Tidak takut mati ketika memperjuangkan islam. Namun juga tetap terikat syariat islam dan sunatullah dalam menghindari kematian. Misal, tetap berusaha hidup sehat, selalu mengingat Allah, selalu melakukan aktivitas yang diridhoi Allah.

Sumber: materi Bengkel Diri level 1 oleh Ummi Roza.

[BengkelDiri5_level1_thaif]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *