[Bengkel Diri] Adab Menuntut Ilmu

Materi Dasar Islam

Adab Menuntut Ilmu

By Ummi Roza

Menuntut ilmu, terutama ilmu agama, harus dilakukan sepanjang hayat, tanpa libur. Selama hidup tetap butuh ilmu untuk menjalani agama.

Potensi hidup manusia dibutuhkan untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya:
1. Akal: yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan menuntun manusia untuk memilih apa yang akan dan tidak akan dilakukan. Membuat manusia menjadi beradab. Tidak sekedar melakukan sesuatu sesuai insting.
2. Kebutuhan jasmani. Makan, minum, napas, buang hajat, dll. Karakteristiknya bila tidak dipenuhi akan mengakibatkan kematian.
3. Kebutuhan naluri.
– eksistensi diri: ghorizah baqo – ketika orang lain mendapat prestasi, kita juga ingin. Ada penjajah, kita berjuang melawan. Bekerja, mengumpulkan uang, jabatan, semua perwujudan ghorizah baqo.
– Naluri melestarikan keturunan/berkasih sayang/sexual: ghorizah nau. Agar manusia berkembang biak. Sedih ketika ditinggal mati. Semua bentuk kasih sayang pada manusia.
– Naluri beragama: ghorizah tadayun. Beribadah, mengagungkan sesuatu di luar dirinya, merasa diri lemah dan butuh sesuatu untuk menguatkan. Ada yang tunduk dan patuh pada bos, artis idola, uang, dll sebagai perwujudan naluri ini.

Bagaimana cara mewujudkan kebutuhan-kebutuhan tersebut? Ketika tidak terpenuhi akan mendorong kita untuk melakukan aktivitas agar terpenuhi kebutuhannya.
1. Mengikuti adat/kebiasaan: turun temurun. Ada semacam perasaan bersalah jika tidak melakukan.
2. Mengikuti tren
3. Mengikuti kata hati/perasaan: perilaku tergantung perasaan saat itu.
4. Mengikuti hawa nafsu: langsung dilakukan tanpa mempertimbangkan baik atau buruk. Tanpa dipikir manfaat dan mudharatnya.

Sudah cocokkah cara kita mewujudkannya?

Manual book: petunjuk operasional
Sifatnya khusus untuk barang tertentu, tidak bisa digunakan untuk benda lain.
Allah pencipta kita, yang paling tahu tentang kita. Buku petunjuk dari Allah adalah Al Qur’an. Allah pun telah mengutus utusanNya untuk menjelaskan tata cara kehidupan sesuai yang diinginkanNya.
Al Qur’an diturunkan untuk ciptaan Allah yang bisa memahaminya (yang berakal) yaitu manusia.

Ketika mengkaji Al Qur’an, ada hal yang kita dapatkan:
1. Keutamaan dan kemuliaan ketika mempelajarinya
2. Kita butuh untuk mempelajari sebagai problem solving semua permasalahan di hidup kita
3. Keselamatan dunia dan akhirat ketika berpegangan pada petunjuk Al Qur’an

QS Az Zariat 56: Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah.

Ibadah: menjalankan yang diperintahkan Allah dan meninggalkan yang dilarang Allah.
Semua aktivitas hidup manusia dalam rangka memenuhi potensi kehidupannya harus dilakukan selaras dengan yang Allah inginkan.
Untuk memahami apa yang diperintahkan dan dilarang maka diwajibkan menuntut ilmu.

Dimensi ibadah: tidak sekedar ibadah ritual dan aktivitas penghambaan kepada Allah saja.
1. Dimensi hubungan dengan Allah: aqidah dan ibadah. Sholat, zakat, puasa, haji, dll – cara melakukan, kapan, dll: butuh ilmu.
2. Dimensi hubungan manusia dengan diri sendiri: makan, minum, berpakaian, adab, akhlak – apa yg boleh dan tidak boleh, cara melakukan, dll: butuh ilmu. Ketika melakukan sesuai yang diinginkan Allah = sudah beribadah kepada Allah. Akan mendatangkan kebaikan dalam diri kita.
3. Dimensi hubungan manusia dengan manusia lain: politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, dll – syariat islam juga mengatur ini. Interaksi laki-laki dan wanita, bagaimana kurikulum harus dibuat, mengatur tindak kriminalitas, tata cara pemerintahan, berpolitik, hubungan luar negeri antarnegara, dll – butuh ilmu

Harus memprioritaskan belajar agama dalam kehidupan kita sebagai bekal dunia dan akhirat kita. Berilmu jg membuat kita lebih bijak dalam bersikap.
1. Menuntut ilmu akan menaikkan derajat seorang muslim.
2. Guna ilmu: menambah ketaatan, agar muncul rasa takut pada diri manusia. Memunculkan rasa bahwa diri ini butuh Allah yang lebih segalanya. Bukan untuk berbangga-bangga.
3. Malaikat akan merentangkan sayapnya untuk muslim yang duduk di majelis ilmu.
4. Ilmu sebagai pahala jariyah manusia.

Hikmah dari dorongan mengkaji ilmu:
1. Pembentukan penalaran rasional. Proses berpikir butuh fakta, indra, informasi sebelumnya, dicerna jadi informasi baru. Al Qur’an menyuruh kita untuk memperhatikan alam semesta dan memikirkannya. Bisa untuk memahami lebih dahulu (mengkaji lalu dikaitkan dengan ajaran islam) dengan mendalam. Bukan berarti lalu mengagungkan akal, namun tetap disandarkan pada Al Qur’an dan sunnah.
2. Pengakuan metode eksperimental. Apabila berkaitan dengan teknik keduniawian (berasal dari metode eksperimental) boleh dikembangkan oleh kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan syariat islam. Namun jika itu wahyu maka mutlak harus dilakukan.
3. Memetik segala yang bermanfaat. Segala sesuatu yang mendatangkan manfaat boleh dilakukan, asal tetap dalam syariat islam. Berlomba2lah utk mencari ilmu yg bermanfaat dan berguna utk kehidupan manusia. Sains dan teknologi tidak terikat peradaban tertentu. Milik umum.
4. Memberantas tahayul dan khurafat. Misal gerhana tidak terkait oleh kematian seseorang.
5. Mengenal hadharah dan madaniyah. Terkait apa yg boleh dan tidak boleh diambil dalam hidup. Hadharah berkaitan tentang keyakinan hidup. Hadharah islam yang boleh didalami. Misal hadharah kapitalis yang hidupnya untuk nyari uang terus itu tidak dibolehkan. Madaniyah terkait benda2. Sifat khusus terkait hadharah tertentu, misal salib, topi Yahudi, maka mutlak tidak boleh digunakan. Sifat umum boleh digunakan, misal sains, teknologi seperti HP, walaupun bukan buatan islam.
6. Taa’tsur dan intifa’. Taa’tsur yaitu mengimbas ke dalam hati/terpengaruh. Hanya boleh terpengaruh ideologi/prinsip kehidupan dan hadharah islam. Intifa’ berarti memanfaatkan. Boleh memanfaatkan benda yang tidak mengandung hadharah.

Belajar bukan untuk hafalan saja, namun untuk bisa memberikan manfaat pada diri kita. Dapat memunculkan rasa takut dan ketaatan pada Allah. Selain itu juga mengkaji dan mengamalkan ilmunya. Serta mempelajari sains dan teknologi dalam rangka memberi manfaat pada ummat.

Adab menuntut ilmu:
1. Meluruskan niat dalam belajar
2. Berdoa agar dikaruniai Allah ilmu yang bermanfaat
3. Bersungguh2 dlm belajar dan selalu haus ilmu
4. Menjauhkan diri kita dari dosa dan maksiat
5. Tidak boleh sombong dan malu dalam menuntut ilmu
6. Mendengarkan dengan baik, diam ketika ilmu disampaikan
7. Berusaha memahami ilmu
8. Mengikat ilmu dengan tulisan
9. Berusaha utk mendakwahkan ilmu (menyampaikan dan melaksanakan)

“Rabbi zidni ilma”
Senantiasa mohon pada Allah untuk diberi petunjuk dalam menjalani hidup.

Sumber: materi Bengkel Diri level 1 oleh Ummi Roza

[BengkelDiri5_level1_thaif]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *