Matrikulasi, Suatu Proses Pengenalan Diri

Semua Bermula dari Pertanyaan..

– Seperti apa ibu profesional itu?
– Mengapa ibu harus profesional?
– Apa kriteria ibu yang profesional?
– Apakah setelah ikut matrikulasi akan menjamin saya menjadi ibu yang profesional?

Kesan Pertama Ikut Matrikulasi

Awal masuk kelas agak kaget melihat kelasnya “rame”. Ada 60 peserta dalam satu kelas dan semuanya perempuan. Kebayang kalau offline pasti lebih rame lagi. 😂
Lalu sesi perkenalan dimulai. Masing-masing menyebutkan nama lengkap, alamat, status pernikahan, pekerjaan, dan motivasi ikut. Dari situ saya jadi tahu daerah-daerah Bandung tempat mereka tinggal. Tahu ragam latar belakang pekerjaan mereka. Rupanya yang belum menikah pun juga banyak yang ikut untuk menimba ilmu sebelum menjadi ibu. Masya Allah..

Tentang Materi dan NHW

Membaca materi dan mengerjakan NHW seringkali membuat saya merenung. Rasanya seperti dibangkitkan keingintahuan tentang diri sendiri dan potensi-potensi yang ada. Dan semua ini nagih memang. Makanya setelah NHW terakhir selesai ada rasa sedih, “Lho, udahan nih?”

Urutan materi kesukaan saya atas dasar kebermanfaatannya dalam hidup saya:

1. Materi 6: Ibu manager keluarga (menentukan aktivitas penting dan tidak penting serta membuat kandang waktu untuk rutinitas sehari-hari). Simply because I’m not organized person but want and need to be organized. Saya akui sering gagal mengatur waktu sehingga habis untuk hal-hal tidak bermanfaat sehingga menemukan cara semacam kandang waktu ini membantu banget untuk saya.
2. Materi 2: Menjadi ibu kebanggaan keluarga (membuat indikator profesional sebagai diri sendiri, istri, dan ibu). Standar itu kita yang buat. Bener banget. Kita yang tahu diri kita. Tahu kapasitas diri kita. Tahu kita bisa melejit sejauh apa.
3. Materi 7: Rezeki itu pasti, kemuliaan harus dicari (mencari potensi diri melalui temubakat dan membuat kuadran suka-bisa untuk menentukan aktivitas yang berpotensi untuk dikembangkan). Soal potensi diri sudah paham tanpa mencoba temubakat. Yang saya suka di sini adanya kuadran suka-bisa yang membantu saya memilih mana yang perlu dikerjakan dan mana yang dibiarkan saja.
4. Materi 8: Menemukan misi spesifik hidup (membuat be-do-have berdasarkan aktivitas suka-bisa yang dibuat di materi 7 lalu menentukan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjangnya). Masih nyambung dengan materi 7, saat tahu harus fokus ke kuadran pertama, saya menjadi semangat untuk menentukan be-do-have ini walaupun jatuhnya jadi abstrak.
5. Materi 3: Membangun peradaban dari dalam rumah (mengenal potensi diri, suami, anak, dan mencari tahu mengapa Allah hadirkan kita di lingkungan saat ini). Menyadari kalau Allah Maha Baik mengirimkan saya di keluarga ini, dengan suami dan anak seperti ini, serta lingkungan yang seperti ini.
6. Materi 5: Belajar bagaimana belajar (mencari tahu cara belajar yang paling efektif untuk diri sendiri). Yang ini sudah tahu dari dulu, namun tetap menarik untuk dipelajari.
7. Materi 9: Ibu sebagai agen perubahan (membuat social venture dari permasalahan di sekitar kita dan mencarikan solusi). Cara menggali ide dan mencari solusi ini menarik. Hanya saja saya terkendala eksekusinya.
8. Materi 1: Adab menuntut ilmu (mencari jurusan yang ingin dipelajari di Universitas Kehidupan serta cara belajarnya). Ini ya udah sih sering saya kerjakan juga, hanya memang sering tidak fokus saking banyaknya yang ingin dipelajari.
9. Materi 4: Mendidik dengan fitrah berbasis hati nurani (menentukan misi hidup dan peran diri serta menentukan milestone pencapaiannya). Milestone itu penting, namun jadi membuat saya terbeban. Materi ini jadi agak tumpang tindih dengan materi 8 yang lebih menarik.

Yang Saya Suka dari Program Ini..

1. Pemberian materi yang bertahap diikuti oleh NHW yang berkesinambungan. Semua seperti batu lompatan yang teratur menuju pengenalan diri.
2. Konsep SoTD. Setiap orang itu unik dan memiliki sesuatu yang bisa dibagi. Dari SoTD saya jadi belajar banyak dari matrikan lain.
3. Class meeting. Bagaikan SoTD kedua, tapi dengan bahasan yang lebih fokus. Sangat menarik bisa menghadirkan matrikan ke kelas kami sambil menyimak ide yang mereka bawa dan hadir di kelas lain sambil merasakan suasana kelasnya serta menyapa teman-teman di kelas lain.
4. Standar profesional. Saya suka bahwa standar profesional itu kita yang ciptakan, disesuaikan dengan kemampuan diri, sambil terus dievaluasi.
5. Menambah teman baru. 😁 Ah, curhatan ini pernah saya tulis di salah satu NHW.

Yang dirasakan setelah menyelesaikan matrikulasi

Mengikuti matrikulasi membuat saya semakin mengenali dan mampu berdamai dengan diri sendiri. Serta membuat saya lebih menikmati peran saya sebagai pribadi, istri, dan ibu. Saya jadi lebih disiplin terhadap pemanfaatan waktu sehari-hari dan lebih berusaha produktif sambil tetap bahagia.

Terima Kasih

1. Terima kasih banyak kepada seluruh pengurus IIP, khususnya divisi Matrikulasi yang telah bekerja keras selama batch 6 ini.
2. Juga teruntuk fasilitator tersayang Manda Alienda, terima kasih atas seluruh bimbingan dan bantuannya selama ini. Jangan kapok ditanya2 terus ya Manda. 😘
3. Guardian kami teh Ami, terima kasih sudah ikut menjaga kelas kami ketika mamah sedang berhalangan.
4. Juga observer kece mbak Litha, terima kasih telah menyambut kami dengan baik dan mempersiapkan kami sebelum menjalani matrikulasi.
5. Terakhir, kepada semua teman sekelas Bandung 1, hayu kopdar lagi! 😁 Terima kasih atas semua ilmu dan kehangatan suasana kelas yang teman2 hadirkan selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *