[bunsay] belajar surfing

Bosen ih main pasir terus. Mau coba yang lebih menantang. Mumpung masih di pantai, jadi kepikiran kalau nyoba surfing gimana ya? Tengok kanan-kiri, eh nemu 2 orang pemandu yang bisa diminta tolong untuk mengajari surfing. Alhamdulillah. Memang rezekinya belajar surfing berarti.

Sebelum memilih papan untuk surfing, kedua pemandu tadi memberikan arahan.

Apakah itu?

Continue reading “[bunsay] belajar surfing”

[bunsay] membangun istana pasir

Setelah diajak bermain ke pantai, rupanya kami semua dapat pesan untuk membangun sebuah istana pasir. Apakah ada aturannya? Tentu tidak, guys. Baik desain, peralatan, maupun cara membangunnya bebasss. Pasirnya pun terserah kita, mau pakai pasir pantai boleh, pasir bawa sendiri juga boleh.

Kami hanya diberi petunjuk: self talk. Ngomong dhewe karo atimu.

Ya udah. Karena diminta ngomong sendiri, sekalian ngomong di sini ya.

Disclaimer: di bawah ini adalah monolog kegelisahan hati saya, bagian dari ngomong sendiri. Bisa penting, bisa tidak. Lewati saja kalau membosankan.

Continue reading “[bunsay] membangun istana pasir”

Mantra

Buat saya, menjaga keikhlasan dalam beribadah itu gampang-gampang susah. Banyak susahnya daripada gampangnya. Padahal salah satu syarat diterimanya suatu amalan adalah ikhlas dilakukan karena Allah semata.

Dalam usahanya, saya bersyukur Allah memberikan petunjuk lewat tulisan seorang ustaz.

Continue reading “Mantra”

Ramadhan terbaik

Ramadhan tahun ini beda.

Tahun ini tidak tarawih di masjid seperti ramadhan sebelumnya. Tidak juga subuhan.

Tahun ini tidak ada agenda silaturahim bersama kerabat melalui buka bersama. Pun tidak ada agenda yang sama dengan para sahabat dan orang-orang terdekat.

Tahun ini 90% makanan untuk sahur dan berbuka dimasak sendiri. Ngabuburit pun tinggal wacana.

Tahun ini bajunya masih sama dengan biasanya. Ah, tahun-tahun sebelumnya juga ya.

Tahun ini beda. Tapi buat saya, tahun ini adalah Ramadhan terbaik. Best I ever had.

Eh, kenapa gitu?

Continue reading “Ramadhan terbaik”

Eyang favorit

Malam itu saya “mengobrol” dengan papa yang sedang terbaring tak sadar di ruang High Care Unit (HCU). Saya sampaikan permintaan maaf atas sikap saya selama ini, begitu pun saya telah memaafkan beliau. Saya ceritakan bagaimana mama yang tidak mau pulang walaupun lelah. Terus setia menunggu papa dalam segala kondisi.

Semua baik-baik saja sampai saya menceritakan tentang anak saya.

Continue reading “Eyang favorit”

Menyapih TV

Dulu saya gemas lihat anak saya tidak tertarik nonton TV. Kan lumayan kalau dia nonton TV anteng saya bisa melakukan hal lain, pikir saya dulu.

Tapi itu dulu.

Perkenalan anak saya pada asyiknya menonton TV dimulai dari rumah orangtua. Btw, kalau pulang ke rumah orangtua saya, anak saya jadi primadona. Maklum, cucu pertama. Semua semangat ingin bermain bersamanya. Tak terkecuali Eyang Kung-nya.

Hanya saja ada gap yang cukup berarti antara stamina anak saya dengan Eyang Kungnya. Hal itu menyebabkan Eyang Kung kewalahan dalam mengasuh, tapi di sisi lain masih ingin main bareng. Lalu apa siasat Eyang Kung?

Continue reading “Menyapih TV”

Your feeling is valid

Ponsel suami saya berbunyi. Ia mengobrol singkat dengan seseorang. Setelah obrolan diakhiri, ia berkata, “Kita siapkan untuk pindah ya.”

Wacana pindah sudah ada sejak beberapa bulan lalu. Kami sadar rumah yang kami tempati dengan sistem kontrak ini tidak bisa diperpanjang lagi masa kontraknya. Alhamdulillah sudah ada pengganti yang pas. Kami sengaja mencari agak jauh waktunya dari jatuh tempo kontrakan agar ada waktu untuk bersiap.

Kalau cuma berkemas, mungkin tidak lama. Yang susah adalah mem-briefing anak kami.

Continue reading “Your feeling is valid”