Sumber kekuatan

Saat menyadari dalam rahim ini sudah ada titipan lagi, satu hal yang langsung membuat saya kepikiran adalah puasa Ramadhan. Bagaimana tidak? Hasil test pack positif satu bulan sebelum Ramadhan, berarti saya akan berpuasa saat masih trimester pertama.

Pikiran saya melayang pada ingatan masa hamil pertama dulu. Puasa Ramadhan saya lalui saat trimester kedua. Saat itu saya merasa ini waktu terbaik untuk berpuasa saat hamil. Tubuh lebih kuat, gejala mual sudah tidak ada, dan gerakan janin bisa dievaluasi. Terpatri jelas di pikiran saya saat itu, “Kayaknya kalau aku puasa saat masih trimester satu gak bakal kuat.”

Continue reading “Sumber kekuatan”

Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa

Namanya Yukari. Seorang gadis asal negeri Sakura berusia 23 tahun. Perawakannya tinggi langsing dengan rambutnya lurus sebahu. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Ia berbicara dengan penuh semangat, mengingatkan saya pada karakter-karakter perempuan di anime.

Yukari adalah salah satu delegasi Jepang di konferensi tahunan ini. Ia ditakdirkan berada di kelompokku, kelompok 18, bersama 16 orang delegasi lain dari 10 negara yang berbeda. Bersama orang-orang dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja akan menarik kalau bisa berbagi kisah.

Hanya saja, sayangnya, Yukari kurang lancar berbahasa Inggris, bahasa yang ditetapkan menjadi bahasa persatuan di konferensi ini.

Continue reading “Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa”

[ulasan buku] Rapijali 1 Mencari

Judul buku: Rapijali 1: Mencari
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang
Jumlah halaman: 352 halaman
Harga: <150k

“Berlainan dengan jalan Oding yang terang benderang, Ping merasa jalannya remang-remang. Semua orang bilang Ping berbakat musik, tetapi Ping tak pernah tahu kebenarannya. Ia tak pernah mengecap pendidikan musik formal. Sudah jelas ia paling jago musik dibanding teman-temannya di Batu Karas. Namun, di luar sana ada dunia besar yang belum menguji kemampuannya.”

Continue reading “[ulasan buku] Rapijali 1 Mencari”

[ulasan buku] Jalan Panjang untuk Pulang

Halaman sampul buku

Judul buku: Jalan Panjang untuk Pulang
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 461 halaman
Harga: <150k

“Ada Jawa yang turut mengalir dalam darah kami. Kami menghirup udara Jawa; kami makan beras Jawa; kami minum jamu-jamu Jawa; kami mengikuti upacara adat Jawa dan menghormat roh-roh gaib Jawa; kami bicara dan berpikir dan bermimpi dalam bahasa Jawa. Tetapi, kami tak bisa menjadi Jawa.”

Agustinus Wibowo – Jalan Panjang untuk Pulang
Continue reading “[ulasan buku] Jalan Panjang untuk Pulang”

Pemulihan

Dua pekan sudah terlewat. Sedih terangkat. Duka terbasuh.

Selama satu pekan pertama, tubuh saya masih lemah. Olahraga tidak bisa optimal. Badan juga mudah lelah.

Di pekan kedua, saya coba untuk kembali aktif. Diet resmi dimulai. Olahraga siap dijalani.

Jadwal vaksin belum terlihat hilalnya. Laporan ke dinkes setempat insya Allah sudah. Mungkin memang padat sekali antreannya.

Bisa jadi ini rencana Allah. Agar saya “terlindungi” dulu baru kemudian hamil. Agar saya dalam kondisi prima seperti saat hamil pertama untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama hamil.

Dari pengalaman keguguran ini, saya menyadari depresi bukan semata-mata sedih yang bisa dihilangkan dengan makanan enak atau jalan-jalan. Depresi butuh waktu untuk pulih dan tidak bisa dipaksakan. Dan dukungan dari keluarga dengan tidak memaksa untuk segera bangkit sangat berguna bagi saya.

Saat itu suami sadar saya butuh waktu. Ia tidak memaksa untuk segera pulih. Ia membantu meringankan kegiatan sehari-hari saya sesuai kapasitasnya. Ia bebaskan saya melakukan apapun selama masih aman. Alhamdulillah atas izin Allah saya bisa menemukan cara untuk bangkit lagi.

Skincare oh skincare

Saya termasuk sangat awam terhadap skincare. Dulu saat teman-teman sekelompok saya sudah ngerti skincare apa yang cocok dan tidak cocok untuk jenis kulit mereka, saya cuma ngerti bedak sama lipgloss doang. Bahkan saya juga nggak tahu kalau jenis kulit saya ternyata alhamdulillah normal sampai awal tahun 2020 ketika ada cek kondisi kulit gratis di sebuah acara yang sedang saya ikuti.

Sialnya (?) saya malah kenalan duluan sama make up. Saat masih kerja, saya gemes lihat efek make up terhadap wajah saya. Mana tak lama kemudian saya mau nikah. Makin semangat saya belajar make up, walaupun cuma yang dasar saja.

Kondisi berubah drastis setelah menikah. Karena sudah berhenti kerja, saya tidak merasa perlu pakai make up. Ditambah kemudian saya hamil. Selama hamil, saya tidak mau sama sekali pakai make up dan perawatan wajah. Rasanya malas sekali melakukannya. Hasilnya, setelah melahirkan, saya tampak seperti ibu kucel gendut bermuka kusam dengan kulit kering dan belang-belang. Sedih banget ini. Padahal aslinya kulit saya normal lho.

Continue reading “Skincare oh skincare”